skin kampung indian: PRIANGAN TEMPO DOELOE
Tampilkan postingan dengan label PRIANGAN TEMPO DOELOE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRIANGAN TEMPO DOELOE. Tampilkan semua postingan

Sejarah Kabupaten Sumedang - Jawa Barat





masjid raya sumedang tempo dulu
MESJID AGUNG SUMEDANG TEMPO DULU
"Dulunya Sumedang merupakan sebuah kerajaan yang bernama" Sumedang Larang". kerajaan ini merdeka dan berdaulat setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran pada tanggal 14 syafar tahun Jim Akhir yang bertepatan dengan tanggal 22 April 1576 Masehi. Tanggal itulah ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang ".

SEJARAH SINGKAT
Dalam catatan sejarah Indonesia Gubernur Jenderal Daendels (1809) pernah membuat jalan raya dari Anyer (Jawa-Barat) ke Panarukan (Jawa-Timur),dalam pembuatan jalan tersebut melewati kawasan Kabupaten Sumedang sekarang ini,sebagai peringatan atas kepahlawanan Pangeran Kornel yang saat itu menjadi Dalem Sumedang dibuat satu tugu di wilayah Cadas pangeran. Tugu tersebut menggambarkan bagaimana sikap 'pangeran Kornel' terhadap rakyatnya yang tertindas.

Sebelum menjadi Kabupaten seperti sekarang ini. Sumedang merupakan sebuah Kerajaan yang bernama 'Sumedang Larang' kerajaan ini menjadi kerajaan yang merdeka dan berdaulat setelah runtuh Pajajaran,yang menurut naskah lama yang disimpan di 'Museum Geusan Ulun' diungkapkan bahwa bubarnya Kerajaan Pajajaran terjadi tanggal 14 Syafar Jim Akhir,kemudian dari berbagai sumber di antaranya,Panitia hari jadi Sumedang menetapkan bahwa tanggal tersebut bertepatan dengan 22 April 1576 M. Yang pertama kali menjadi Nalendra Sumedang larang adalah Geusan Ulun.

Bila kita memasuki Kota Sumedang terdapat sebuah tugu yang dikenal dengan Lingga. Lingga tersebut didirikan di tengah alun-alun Kota Sumedang,sebagai pengahargaan rakyat dan pemerintah pada saat itu,atas jasa-jasa 'Pangeran Aria Soeria Atmaja' selama memegang tampuk pemerintahan dari tahun 1882 sampai dengan 1919 hingga diresmikan pada hari Selasa,tanggal 25 April 1992.Di samping itu,Pangeran Aria Soeria Atmadja telah berjasa mendirikan Sekolah Tani,yang kini dijadikan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian dan SPP/SPMA Tanjungsari.

Masyarakat Sumedang sangat menghormati padi,saking menghormatinya sehinga timbul suatu kebiasaan untuk menghormati padi itu,dalam upacara ritual,yang digelarkan dalam suatu bentuk kesenian bernama "Tarawangsa".

Tarawangsa ini bentuk pagelaran musik yang terdiri dari Kecapi dan Tarawangsa (Rebab Jangkung) dengan irama tertentu mengiringai para penari.
 
Sumber:Bunga Rampai Jawa-Barat.Musnipal Mashun 1991

DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Naskah Kuno dan Prasasti di Priangan



 Priangan
PRIANGAN TEMPO DULU

Di Jawa-Barat banyak ditemukan prasasti,antara lain di Bogor,Banten dan Bekasi,yaitu Ciaruteun,Kebon kopi,Pasir jambu,Cidangiang dan Tugu. Benda-benda itu merupakan bukti bagi kita bahwa kepandaian tulis-menulis di Daerah Sunda telah ada sejak abad ke lima.

Huruf dan bahasa tulis yang digunakan adalah huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta,yang semula berasal dari India. Masyarakat Sunda pada zamannya benar-benar telah mengusai pengetahuan baca-tulis,terbukukti dengan ditemukannya empat buah Prasasti di Sukabumi,yang terkenal bernama Prasasti Bantarmuncang. bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa Kuno dan bertahun 955 atau 1030 Masehi. Kemudian ditemukan lagi prasasti yang dibuat pada abad ke-14 dan ke-16 di Kawali(Ciamis),Bogor. bahasa yang digunakan dalam prasasti tersebut ialah Bahasa Sunda Kuno.

 Pemerintah berusaha memelihara semua benda peninggalan leluhur,mengingat fungsinya yang penting bagi Ilmu Pengetahuan. Apalagi peninggallan sejarah itu menjadi kebanggan seluruh bangsa secara turun-temurun. Bukti-bukti sejarah tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan dan pembagunan kebudayaan kita.
 Seorang ilmuwan Belanda bernama N.J.Krom mengutarakan bahwa naskah Sunda yang tertua yang pernah ditemukan bertahun 1256 saka atau 134 masehi. Kita dapat membaca naskah-naskah Sunda yang telah disimpan,baik dari museum Nasional Jakarta atau Museum Jawa-Barat. Selain itu Museum Geusan Ulun di Sumedang dan Museum Cigugur di Kuningan,dewasa ini telah memiliki pula koleksi naskah-naskah Sunda. Sedang perpustakaan Leiden di Belanda dan Perpustakaan Asiatic Society di Inggris,telah lama memiliki koleksi naskah Sunda.

Di dalam masyarakat Sunda pada umumnya,naskah Sunda dimiliki oleh anak-cucu keturunan Pamongpraja di masa lalu . juga dimiliki para Kiai dan Ulama,para pecinta kesenian dan kebuyaan Sunda.
Tak terbilang banyaknya naskah yang rusak karena terlantar. Isi dan bahasanya tidak diketahui oleh generasi muda sehingga tidak terawat dengan baik. Bahannya pun tidak menarik.
 Selain itu ada pemilik naskah yang merahasiakan benda yang dimilikinya,karena berbagai alasan. Antara lain benda itu merupakan benda pusaka nenek moyang yang perlu ditelusuri. Ada pula karena mengindahkan pesan leluhur yang telah lampau,bahwa naskah tersebut tidak boleh jatuh ke tangan penjajah.

Pada tahun 1969,seorang pemilik naskah dengan berat hati terpaksa menjual naskah warisan nenek moyangnya,meskipun dilarang oleh keluarganya. Hal tersebut dilakukan karena ia perlu uang untuk berobat. Naskah itu berjudul " Carita Purwaka Caruban Negari ", naskah itu kini tersimpan di Museum Negeri Jawa-Barat di Bandung.  Peristiwa ini sama dengan peristiwa perolehan naskah yang lain,yaitu naskah Pustaka Negara Kertabumi dan Pustaka Pararaturan i Bumi Javadwipa serta Pustaka Pararaturan i Bumi Nusantara.

Adapun bahan yang digunakan untuk menulis naskah Sunda ialah daun lontar,janur daun enau,daun pandan,nipah dan daluang. Selain ditulis dalam huruf Sunda Kuno,huruf Jawa-Sunda dan huruf latin,sebagian besar naskah Sunda ditulis dengan huruf Arab.
 Pada tahun 1980,1982,1983 dan 1984,telah diterbitkan hasil pendataan Naskah Sunda Lama di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang oleh petugas Departemen Pendidikan dan kebudayaan Jawa-Barat,yaitu:
Dr.Edi S. Eka Ekajati. Dalam pada itu naskah tulisan tangan asal Sunda yang di tulis oleh Karel Frederik Holle pada tahun 1867.

(Sumber: Menimba Ilmu dari Museum- Pratameng Kusumo-BP 1989) 
DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Konstruksi Gunung Padang Dirancang
Arsitek Purba Ulung



Situs purba Gunung Padang

Penelitian situs punden berundak terbesar di Asia Tenggara Gunung Padang, terus berlanjut. Dilihat dari konstruksinya, situs yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat, ini sudah dibangun manusia 
dengan sangat cerdas.

Arkeolog muda Universitas Indonesia Ali Akbar mengutarakan, ini menunjukkan fakta bahwa pembuat bangunan Gunung Padang adalah masyarakat yang sudah memiliki peradaban tinggi. "Meski tidak ada sumber tertulis, tapi pasti dibuat oleh masyarakat yang sudah berkehidupan teratur, sudah ada organisasi sosial. Namun, tidak harus organisasi sosial berbentuk kerajaan," tegasnya.

Ali bersama rekan-rekannya dalam Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, melakukan penelitian di situs sejak tahun lalu, tepatnya Mei 2012. Temuan yang ada sampai saat ini, bahkan melebihi ekspektasi.

Kalau sebelumnya diperkirakan memiliki luas tiga hektare, ternyata peneliti menemukan luasnya bisa mencapai 15 hektare atau lebih. Sebab, bangunan Gunung Padang bukan hanya yang terdapat di bagian atas, melainkan juga ada struktur di bagian badan dan kaki bukit dalam bentuk terasering atau tingkatan-tingkatan yang meliputi seluruh gunung.

Para "arsitek"nya yang membangun Gunung Padang di masa lampau juga secara perencanaan serta perhitungan matang, hingga bangunan bisa bertahan lama.

Salah satu faktor utama adalah batu yang digunakan di Gunung Padang, yakni batu columnar joint, tipe batuan alami yang  terbentuk karena proses geologi.

Batuan tersebut keluar dari perut bumi, menjelang sampai di permukaan tanah, mengering, lantas memecah. Pecahan umumnya berbentuk segilima, kemudian oleh manusia, diambil dan disusun.

"Susunannya luar biasa. Antara lain penyusunan batu-batu untuk menjadi (tangga) pijakan berdasarkan kecocokan lebarnya, sampai dapat memeroleh ketinggian lereng tanpa longsor. Tadinya saya pikir konstruksi ini cerdas, ternyata sangat cerdas," ungkap Ali yang juga menjadi pengajar untuk mata kuliah Arsitektur Bangunan Masa Prasejarah, Hindu, dan Buddha.

Dan arsitek-arsitek cerdas ini juga memaku bukit, tujuannya supaya tidak longsor; konstruksi dinding bagian luar Gunung Padang diatur sedemikian rupa seperti paku yang menancap.

Terlihat dari sisi utara, timur, dan barat ditancapkan batu seperti pasak-pasak sedalam 40-50 cm. Ali bertutur, "Pasak sudah memperkokoh dinding tanah pada bukit alami itu. Di sisi utara, batu ditancap dari arah utara ke selatan. Di sisi timur, ditancap dari timur ke barat, begitu sebaliknya di sisi barat Ali memaparkan pula penemuan menarik terbarunya yang terdapat pada satu susunan batu, berupa semacam adonan perekat. "Kemungkinan mereka sudah mengenal 'semen'. Cerdasnya lagi, mereka tahu di mana harus menempatkan perekat—di tengah-tengah bebatuan," terangnya.

Sampel semen purba ini langsung diperiksa di laboratorium LIPI untuk memastikan campurannya. Di samping itu, masih diyakini ada banyak bagian dari bangunan Gunung Padang yang belum terungkap, sehingga Tim Terpadu Riset Mandiri akan terus melanjutkan penelitian di tahun 2013 ini.

Tim berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari berbagai disiplin, termasuk ahli geologi, ahlipaleosedimentologi, ahli filologi, sampai ahli geografi bentang lahan dan ahli astronomi.  sumber National geographic indonesia  oleh: (Gloria Samantha)
DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Karel Frederik Holle:
Orang Belanda Yang Mendalami Budaya Sunda


    
Ku taksiran,maraneh geus aya nu nyaba ka Garut.
Garut teh kakoncara tempat resik,tanah ngagaludra ngupuk,kaliung ku gunung-gunung. Belah kidul ngajeger Gunung Cikuray,Kamasur jadi pangirut,matak wegah matak sungkan, ka sakur nu rek paturay.(tina: Sungkeman-kandaga 1963)

Tercatat Para 'theeplanters',yang sering disebut "de theejonkers van de prianger"(para pangeran kerajaan teh dari Priangan),banyak menurunkan sarjana intelektual yang menguasai beberapa aspek kebudayaan Indonesia. Beberapa nama pangeran Kerajaan Teh Priangan, seperti keluarga,Van Der Huchts,de Kekhovens,de Holles, Motmans,de Bosscha's,Families Mundt,Denninghoff, Stelling dan Van Heeckeren van Walien (Rob Nieuwwenhuys " Tempo Doeloe,Een Verzonken Wereld",1982).

Keluarga Preangerplanters yang berjiwa pionir,memilih hidup di daerah pedalaman,di lereng-lereng pegunungan, jauh tersingkir dari pergaulan hidup masyarakat Eropa yang tinggal di kota. Mereka jadi lebih akrab bergaul dengan bangsa pribumi,para koeli perkebunan,ketimbang bergaul dengan bangsanya sendiri.

Waktu luang mereka,digunakan untuk menyelami kebudayaan bangsa pribumi. Menyelidiki pesona indah alam Hindia-Belanda. Menelusuri sejarah masa lalu Hindia-Belanda .Mempelajari bahasa dan adat-istiadat orang pribumi. Lewat catatan dari hasil telaah penyelidikan mereka kemudian orang bisa banyak mengetahui sejarah keadaan masa lalu.

Keluarga de Holles sempat melahirkan pribadi-pribadi yang menaruh perhatian dengan minat besar terhadap sejarah, adat kebudayaan,dan bahasa orang-orang pribumi.

Karel Frederik Holle,anak sulung dari 5 laki-laki bersaudara dari keluarga Holle,semula adalah pegawai dengan pangkat Komis di Kantor Keresidenan Priangan di Cianjur, sebagai seorang Ambtenaar di Priangan,ia benar-benar menyelami kehidupan rakyat Priangan. Begitu fasihnya dia menggunakan Bahasa Sunda,sehingga teman-temannya mengatakan: " Hij sprak het soendaneese als een soendaneese" ( Dia berbicara bahasa Sunda seperti layaknya orang Sunda).

Tahun 1857 Karel Frederik Holle ditunjuk oleh Kolonial Belanda sebagai Tuan Kuasa dari Perkebunan Teh di Cikajang,dikaki Gunung Cikuray,Garut(Priangan Timur).

Adik K.F.Holle yang bernama 'Herman Hendrik Holle' tak kurang seriusnya menelaah Kebudayaan Sunda. Herman Holle yang sehari-hari memakai sarung dan baju kampret(kemeja khas orang Sunda Tempo Doeloe),dengan peci kesempitan yang bertengger di atas kepalanya, sering ditemui orang sedang "klengsoran"di lantai Pendopo Kabupaten Sumedang, sambil menggesek alat musik rebab untuk mendalami musik karawitan Sunda. Saking tergila-gilanya ia terhadap alat musik gamelan, hingga terkadang ia lupa untuk beristirahat dan memainkan istrumen dari pukul 8 pagi,hingga larut malam.
           

 (sumber:Wajah Bandoeng Tempo Tempo Doeloe,alm Haryoto Kunto)


DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Sejarah Tasikmalaya


masjid tenjolaya tempo dulu
Masjid Manonjaya 1880-Tasikmalaya tempo doeloe

"Kabupaten Tasikmalaya merupakan penggantian nama dari Kabupaten Sukapura. Hari jadi kota Tasikmalaya ditetapkan berdasarkan ditemukannya Prasasti Gegerhanjuang di kaki Gunung Galunggung pada tanggal 21 Agustus 1111 Masaehi ".

    Sejarah Singkat

Berdasarkan catatan sejarah yang terdapat pada Prasasti Gegerhanjuang yang ditemukan di kaki Gunung Galunggung,hari jadi Kota Tasikmalaya jatuh pada tanggal 21 Agustus 1111 Masehi.

Pada abad ke VII sampai XII di Tasikmalaya diketahui adanya pemerintahan yang berbentuk Kebataraan,pusat pemerintahannya berada di sekitar Tawang atau Galunggung. Batara-Batara yang memerintah waktu itu ialah Sang Batara Sempak Waja,Batara Kuncung Putih,Batara Kawindu,Wastu Hayu,Hyang Ratu Galunggung. Pemerintahan Kebataraan ini,kenudian berubah menjadi kerajaan yang dikenal kerajaan Galunggung.

Diantara raja-rajanya adalah Batari Hyang Galunggung,Rakean Dermasiksa,Ratu Saunggalah,Prabu Ragasuci,Sang Lumahing Taman,Ratu Sembah Golek,Ratu Panyasongan,Sang Lumahing Gunung Raja.

Pada abad XV-XVI diketahui pemerintah yang ada di Tasikmalaya ini merupakan bawahan dari kerajaan Pajajaran,berpusat di Sukakerta. Diantara Raja-rajanya ialah Sri Gading Antek,Dalem Sukakerta atau Dalem Santawaon,Entol Wiraha,dan Wirawangsa.

Pada masa penjajahan Belanda,sekitar tahun 1641,berdirilah pemerintahan Sukapura (Sekarang-Sukaraja) dengan ibukotanya di Leuwiloa. Diperintah seorang Bupati Ki Ngabehi Wirawangsa,yang kemudian diteruskan Jaya Manggala,Anggadipa,Subamanggala H,Anggadipa II,R.T. Suryalaga,Anggadipa II. 

Ibukota Kabupaten ini sempat berpindah dari Leuwiloa ke Empang di Sukaraja,kemudian berpindah ke manonjaya. Tepat pada tanggal 1 Oktober 1901 Ibukota Kabupaten Sukapura di Manonjaya pindah ke Tasikmalaya. Kemudian nama Kabupaten diganti menjadi Tasikmalaya.

Pada masa setelah proklamasi kenerdekaan RI jabatan Bupati kabupaten Tasikmalaya berturut-turut dipegang oleh:
R.Abas Wilagasomantri (1949-1951),R. Priatna Kusumah (1951-1957)R.ipung Gandapraja (1957-1958)
Memed Supardireja (1958-1966).

(Sumber:Bunga Rampai Jawa-Barat.Musnipal Mashun 1991)


DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Sejarah Sukabumi


        
sukabumi
MASJID SUKABUMI TEMPO DOELOE

Pada tahun 1872 Pemerintah Kolonial Belanda memberikan kesempatan para penguasa berkebangsaan Belanda yang berdomisili di Sukabumi untuk membuka usaha dibidang perkebunan,terutama teh dan karet. Di wilayah itu ternyata upaya tersebut mendapat perhatian dan mengalami perkembangan yang pesat,sehingga pada tahun 1815 tercatat 160 buah perkebunan.

Seiring dengan berkembangnya jumlah perkebunan,penduduk kota Sukabumi maupun yang berkebangsaan Belanda bertambah pula. pada akhirnya penguasa pada masa itu menganggap perlu mendirikan pemerintahan yang otonom.

Pada Tanggal 1 April 1914 Ibukota Distrik Sukabumi resmi menjadi daerah otonom dengan status Gemeente .
Sekarang daerah itu menjadi Perintah Kotamadya DT II Sukabumi. Luas wilayahnya meliputi 1215 hektar.

Sedangkan pemisahan distrik Sukabumi dari Kabupaten Cianjur baru terjadi pada tanggal 1 Juli 1912. Sejak itu wilayah Sukabumi yang semula bernama " Kacutakan Gunung Parang "  mempunyai pemerintahan sendiri yang otonom. Dengan dikuatkan oleh Undand-Undang No.14/1950 tentang terbentuknya daerah-daerah kabupaten di Jawa-Barat,hingga sekarang daerah ini menjadi Kabupaten Tingkat II Sukabumi.

Sejak berdirinya pemerintah Kabupaten Sukabumi,tercatat nama-nama Kepala Daerah/Pangreh yang memimpin daerah ini sebagai berikut: Periode Republik: R. Rg.Adiwikarta (1945),Mr.Haroen (1945), M.Soewardi (1946), R.A.A. Hilman Djajaningrat (1947).
Periode Recomba : R.A.A. Soeria Danoe Ningrat(1947-1949).
Periode Rebuplik : R.Widjaja Soeria (1950-1960),R.Hardjasoetisna ( 1960-1963),R.Kurdi Suriadiharja (1963-1967),Kol Polisi H.Anwari (1967-1978), Drs.H.M.a.zainuddin (1978-1983),Drs. H. Ragam Santika (1983-1989). YRV

 -Sumber:Bunga Rampai Jawa-Barat.Musnipal Mashun 1991-

DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Iket Ki Sunda



bandung tempo dulu
KARTADINATA UYUT KURING

Hasil penelusuran memang tidak diketemukan secara lengkap mengenai asal-muasal kapan orang Sunda mulai memakai Totopong yang kini lebih popular disebut iket sebagai penutup kepala denga berbagai modelnya,tetapi banyak sekali yang meyakini bahwa iket kepala yang dipergunakan masyarakat Sunda tempo doeloe bukan hanya sekedar pelengkap busana atau sekedar penahan panas,tetapi memiliki simbol-simbol tertentu dan sebagai tanda status sosial pemakainya atau ciri khas dari setiap daerah asalnya,misalnya iketan yang biasa digunakan oleh " lengser " sangat berbeda dengan iket yang digunakan pesilat dengan "Barangbang Semplaknya," juga seperti iket masyarakat Baduy tentu berbeda dengan masyarakat Kampung Naga Tasik Malaya. 

Orang Sunda dengan selembar kainnya dan malalui keterampilan tangannya menjadikan ikatan kain berukuran rata-rata 90x90cm sebagai penutup kepala begitu beragamnya lalu menamai setiap model dan filosofinya,menunjukan bahwa betapa luhurnya pemikiran serta dalamnya penghayatan keilmuan para leluhur dengan membedakan gaya-gaya iketnya,seperti: " Barangbang Semplak,Buaya Nyangsar,Julang Ngapak,Parekos Jengkol,Parekos Nangka,Babarengkos,Paro'os Gedang,Maung Heuay,Kuda Ngencar dan sebagainya."

Salah satu Pandita di Bali yang pernah saya temui,menjelaskan udeng atau iket yang dipergunakan pada saat beribadah melambangkan bahwa kemampuan logika harus dibatasi ketika mengahadap Dewata,hal itu sesuai dengan " Parekos Jengkol " dengan bentuk kainnya yang menutup ubun-ubun mengandung filosofi bahwa tidak semua pemikiran manusia ada jawabannya karena yang mempunyai semua jawaban adalah Sang Prncipta.
" Sajarah Sukapura " yang berbentuk dangding,yang dikutip Raden Sastranegara dalam " Pangeling-ngeling 300 taun ngadegna Kabupaten Sukapura/Tasikmalaya,1933,menjelaskan bagaimana orang Sunda berpakaian,diantaranya,

" baheula mah jaman sepuh,para istri menak-menak,baju jubah ninggang bitis,dikekemben ngalempay panjang ka tukang ari istri piluaran,lamun marek ka Buapti,makena karembong dua,dipake apok sahiji,nu hiji nyalindang nyampir dina tak-tak kagusur...Udeng wedal Sukapura,batik hideung sawung galing...totopong balangkreng sisi,sabuk saten nyoren gobang,totopong dipasang tegil,baju kamsol make kancing,emas hurung tinggalebur."

Dengan terjemahan bahasa Indonesia:" Dahulu jaman orang tua kita,istri bangsawan mengenakan baju jubah sampai betis,memakai selendang panjangterjurai kebelakang. Kalau istri rakyat biasa,bila menghadap Bupati,mengenakan dua buah selendang,yang satu dipakai penutup dada,yang satu lagi disampirkan diatas pundak terseret-seret,udeng (tutup kepala)keluaran Sukapura,batik hitam Sawunggaling...memakai ikat kepala " Balangkreng Sisi ". Ikat pinggang kain saten dan menyandang golok. Ikat kepala dipasang model tegil,baju kamsol memakai kancing warna mas menyala gemerlapan".

Cuplikan dan tesis Gandjar Sakri:Kerajinan Tangan Tasik Malaya",Seni Rupa ITB,Bandung 1974.
Sekarang banyak ditemui anak-anak muda memakai iket kepala,terlepas mengerti atau tidaknya model iket yang dipergunakan,paling tidak sudah mencirikan indetitas budaya dan melalui iketlah bangkitnya kesadaran diri.
        
Sumber:Sunda Wani oleh:Agung Ismail Mirza



DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!