skin kampung indian: BANDUNG TEMPO DOELOE
Tampilkan postingan dengan label BANDUNG TEMPO DOELOE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BANDUNG TEMPO DOELOE. Tampilkan semua postingan

Persib Bandung Antara Tahun 1951-1958





Persib Bandung 1951-1958
Perhatian masyarakat terhadap PERSIB mulai besar.Dalam melaksanakan pertandingan-pertandingannya diselengarakan di lapangan UNI.SIDOLIG. YAYASAN STADION SILIWANGI,dan LAPANGAN TEGALLEGA.

Pada kurun waktu 1951-1958 PERSIB menjadi "Killer" dari tim-tim luar negeri,sehingga banyak pemin-pemain PERSIB yang terpilih menjadi pemain-pemain PSSI,di antaranya: Witarsa,Ade,Rukmana,Omo dan lain-lain.

Sejak 1951 sampai 1958 secara berturut-turut PERSIB diketuai oleh Rd. Ating Prawirasastra. Pada tahun 1951 dan 1957 PERSIB berhasil menjadi juara tiga dalam pertandingan-pertandingan kompetisi PSSI di Surabaya dan Padang.

Pada tahun 1956 masuk anggota-anggota baru dari Kabupaten Bandung dengan status Kecamatan,sehinggga PERSIB bukan hanya meliputi " Kota Praja Bandung " saja,melainkan sudah meliputi Kabupaten Bandung,sesuai dengan Persatuan Dasar.

Pada tahun 1950,setelah PSSI tenggelam untuk sementara dalam masa penjajahan Jepang,PERSIB mengambil inisiatif untuk mempelopori diadakannya kongres Istimewa PSSI yang diselenggarakan di Bandung. Salah satu dasar pemikiran dari para pengurus PERSIB yang tak jemu-jemunya " Nanjeurkeun " dunia olah raga saat itu adalah untuk membangkitkan daya juang PSSI dari kelesuan atau kelumpuhan sesuai dengan sistem demokrasi terpimpin.
Para ketua PERSIB yang pernah menjabat dari tahun 1933-1958:

 1. Anwar Sutan Pamuntjak (1933)
 2. Rd. Sadikin
 3. Rd. Oto Iskandar Dinata
 4. Munadi (1948)
 5. dr. Ishak Suriakusumah (1949)
 7. Rd.Ibrahim Iskandar (1951-1957) 8. Rd. Ating
    Prawisastra (1958-1960)
 9. K.Komara Dinata (1960-1963)
10. Solihin GP,dan Ateng Wahyudi

    Sumber:Bunga Rampai Jawa-Barat.1996.Munispal Mashun


DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Penerbit dan Percetakan di Bandung Tempo Dulu


                       
lukisan bandung tempo doeloe


Penerbit dan percetakan paling tua di Bandung tempo doeloe adalah, N.V. Mij vorking (Sumur Bandung sekarang) yang didirikan pada tahun 1896. Koran yang pertama dicetak di Wilayah Priangan  Bernama " Preangerbode " yang terbit perdana pada hari Senin 6 Juli 1896,dengan redakturnya Tuan J.H.L.E. Meeverden,uang langganannya f.2.50 untuk setengah tahun.
 Percetakan lainnya adalah Firma A.C. Nix (kemudian jadi N.V.Masa Baru) yang didirikan pada tahun 1901.

Kemudian menyusul penerbit/percetakan Visser,de Kleine dan Van Dorp di Jl.Braga.
Selain Preangerbode terbit pula Mingguan " De Indische Post, harian bahasa Melayu " Kaoem Moeda " Mingguan " De School " dan tengah bulanan " Intermediar " sebuah media cetak dari kadin Bandung (Handelsvereeninging te Bandoeng). 

Ada 3 majalah bulanan terbitan kota Bandung tempo doeloe sebelum perang yang terkenal menarik karena penyajiaanya artikelnya yang baik. 'Majalah Indie',beralamat di Neuw Merdika-Weg No.17 Bandoeng. Majalah 'Indie',yang terbit pada tahun 1920'an ,benar-benar berbobot bila dilihat dari susunan  redaksinya. Mereka adalah Prof.Dr.A.W. Nieuwenhuis,Dr.J.P.B. de Josselin de Jong, M. Joustra dan Tuan C.Lekkerkerker,seorang Geograf yang lucu namanya. Uang langganan pertahunnya sebesar f.20,-.

Majalah lainnya adalah " Priangan " dan " Mooi Bandoeng " organ dari perkumpulan " Bandoeng Vooruit " yang banyak berkecimpung dalam mengembangkan sektor pariwisata di Priangan,khususnya di Bandung.

karena banyaknya penerbit dan percetakan pada saat itu,maka Bandung tempo doeloe memang pantas disebut sebagai kiblatnya kehidupan intektuil di Hindia Belanda.


 Sumber:Wajah Bandung Tempo Doeloe.Haryoto Kunto

   
DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!


Pacuan Kuda Di Bandung Tempo Dulu








SUASANA DI TEMPAT PACUAN KUDA TEMPO DULU

Wisatawan ini khusus datang ke Bandung untuk menghadiri dan menyaksikan "event-wisata" yang secara periodik diadakan. Event wisata yang dimaksud adalah: Balap Kuda "yang mengambil tempat di Lapangan Tegallega dan "Bursa Tahunan" (Jaarbeurs) yang selalu diadakan tiap tahun pada tahun Juni-Juli. Sedangkan balap kuda dalam ukuran " perlombaan kecil " paling tidak,sebulan sekali diadakan dan diikuti oleh kuda dari dalam kota Bandung.

Namun Balap Kuda yang terbesar,biasanya dilakukan setahun dan diikuti oleh kuda dari daerah. Umumnya perlombaan dikaitkan dengan peringatan Ulang Tahun "Sri Ratu" nun jauh di Nederland sana,atau peringatan khusus lainnya.
  
Pada musim kuda semacam ini,secara tiba-tiba Kota Bandung menjadi gegap gempita ceria. karena orang sekota Bandung tumplek-blek di Lapang Tegallega. Dari pribumi udik,sampai Belanda totok gerot,ada di gelanggang pacuan kuda.
  
Yang paling menarik adalah kaum wanitanya,apakah itu wanita pribumi atau Eropa,mereka saling pamer mode baru pakaiannya,tak ketinggalan dandanan rambut,topi,patung,selop sampai kelom geulis,jadi bahan jorjoran.
  
Akibat jorjoran yang hidup konsumtif tempo doeloe itu,begitu pacuan kuda bubar,banyak rumah tangga ikut bubar pula.Istri-istri panas,ngadat minta dibelikan baju brokat dan perhiasan baru. Bahkan tidak jarang,pada waktu lomba pacuan kuda berlangsung, orang saring pelet-gaet istri orang.
  
Konkurensi di kalangan kaum pria lebih sederhana. Mereka cuma pamer topi " Borsalino ",saling menonjolkan keunikan pipa cangklongnya dan keantikan tongkat gadingnya. Ya,meriah mewah pada saat itu. 

Kamonesan Kota Bandung semacam itu,mustahil bisa terulang kembali di jaman kiwari.

    Sumber:Wajah Bandung Tempo Doeloe.1984.Haryoto Kunto


DIJUAL BUKU-BUKU LAWAS ... !!!